Saya tidak menyangka bahwa kondisi perubahan fertilitas pada perempuan berpengaruh pada kesehatan mental selain kesehatan fisik. Hal yang paling saya alami adanya mood swing yang cukup tajam terutama di akhir usia 40-an. Perubahan antara perasaan euforia dan mental down sangat tajam, hal kecil bisa memicu emosi yang berlebihan. Keadaan ini dialami pada perempuan pada masa perimenopause dan menopause, sedangkan pada masa postmenopause perempuan sudah terbebas dari gejala mood swing ini. Apakah kita harus menyerah? Aapakah semua orang harus memaklumi keadaan kita? Tidak ada yang suka berada di dekat orang yang mudah marah, sehingga kitalah yang harus mengerti diri sendiri, apa yang sebenarnya terjadi pada diri sendiri? Bagaimana mengendalikannya?

Semua karena hormon

Pada masa subur (fertil) perempuan memproduksi hormon estrogen dan progesteron yang bekerja sama dalam masa menstruasi, kehamilan dan melahirkan. Pada fase awal (Fase folikular), ovarium memproduksi estrogen dalam jumlah tinggi, lalu lapisan dinding rahim (endometrium) tumbuh dan menebal serta, lendir serviks menjadi lebih encer agar sperma mudah masuk.

Pada fase pelepasan sel telur (ovulasi) puncak kadar estrogen memicu pelepasan sel telur dari ovarium (ovulasi), sedangkan fase setelah ovulasi (fase luteal), sisa sel telur membentuk korpus luteum yang menghasilkan progesteron. Progesteron mengambil alih untuk menjaga ketebalan rahim dan membuatnya kaya akan pembuluh darah serta nutrisi. Hormon ini juga mencegah otot rahim berkontraksi agar sel telur yang menempel (implantasi) tidak lepas. Jika terjadi kehamilan kedua hormon tetap tinggi untuk menjaga dinding rahim dan menghentikan ovulasi baru. Sedangkan jika tidak terjadi kehamilan kadar estrogen dan progesteron turun drastis, memicu peluruhan dinding rahim yang keluar sebagai darah haid.

Siklus hormon dalam tubuh perempuan

Hormon progesteron selain berperan dalam urusan fertilitas juga dalam berperan dalam kesehatan mental. Hormon ini lebih seperti anti depresan alami, bisa menjaga keseimbangan mood swing pada saat PMS, selain itu hormon ini juga membantu kita tidur lebih lelap. Pada masa perimeopause hormon progesteron berkurang dan hormon lain yaitu hormon esterogen menjadi dominan. Hormon esterogen lebih agresif dibanding hormon progesteron, sehingga efek menenangkan dari progesteron menjadi berkurang yang menyebabkan mood swing pada masa perimenopause. Setelah memasuki masa menopause mood swing ini mulai hilang karena kedua hormon ini jumlahnya hampir sama. Namun hormon esterogen dan progesteron jumlahnya jauh berkurang dibandingkan masa fertil. Hormon esterogen adalah pelindung alami perempuan terhadap tulang, otot, darah, jantung sehingga perempuan menopause menjadi lebih rentan terhadap berbagai penyakit.

Gejala yang muncul karena berkurangnya hormon progesteron:

  1. Adanya gangguan tidur: tidur lebih sulit, sering bangun di tengah malam dan waktu tidur lebih pendek.
  2. Adanya mood swing: hal kecil mudah membuat kesal dan marah tapi juga mudah depresi.
  3. Munculnya gejala alergi baru. Nah ini yang saya alami. Tiba-tiba kalau malam muncul merah-merah gatal-gatal dan harus minum obat anti alergi. Penurunan progesteron meningkatkan sensitifitas antihistamin yang bertanggung jawab pada alergi tubuh.

Keadaan turunnya jumlah hormon progesteron membuat tubuh berada pada keadaan stress. Keadaan ini memicu hormon lain namanya hormon cortisol. Gejala naiknya hormon cortisol:

  1. Tubuh cepat lelah, dan butuh istirahat lebih lama.
  2. Naiknya berat badan dan bertambahnya lemak di bagian perut.
  3. Mudah lapar terutama makanan tinggi gula dan lemak.
  4. Adanya gangguan tidur.
  5. Turunnya sex drive.
  6. Brain fog, lupa berbagai macam hal, sulit fokus dan berpikir lebih lambat.

Bagaimana saya mengatasi semua gajala tersebut?

Setiap perempuan mengalami perubahan kadar hormon dalam tubuh pada saat pre menopause tapi gejalanya bisa berbeda-beda ada yang ringan ada juga yang lebih berat. Saya sendiri mengalami gejala-gejala tersebut walaupun tidak terlalu parah. Namun demikian, hal tersebut sudah mengganggu kualitas hidup saya. Katanya terapi hormon bisa mengurangi gejala-gejala premenopause jika gejalanya sudah cukup parah dan mempengaruhi kualitas hidup. Saya sendiri tidak mengerti tentang hal itu, jadi lebih baik konsultasi ke dokter untuk hal tersebut.

Hal yang saya lakukan untuk meringankan gejalanya adalah mengubah pola hidup menjadi lebih sehat: makan yang lebih bergizi, rutin berolah raga, mengurangi pemicu stress dan tidur yang cukup. Saya sama sekali menghindari minuman manis yang berasal dari gula sederhana, mengurangi makanan tinggi karbohidrat dan lemak, serta menambah porsi protein, sayuran dan buah. Pengaturan pola makan tersebut lebih memperlambat kenaikan berat badan, mengurangi resiko diabetes dan tekanan darah tinggi. Olah raga rutin bisa merilis hormon endorphin yang membuat tubuh rileks, menjaga kesehatan pembuluh darah dan jantung, juga membuat tidur lebih lelap, dengan catatan olah raga dengan porsi yang cukup tidak berlebihan. Selain itu, saya menjalankan kegiatan-kegiatan bermanfaat berupa hobby yang menyenangkan yang bisa sedikit melepaskan dari rasa-rasa tidak enak yang dirasakan.

Kesimpulannya, keadaan premenopause dengan semua gejalanya tidak bisa kita hindari semuanya adalah keadaan alami yang semua perempuan alami. Masalah bukan pada semua gejala tersebut tapi bagaimana kita menghadapinya. Apakah kita akan menyerah begitu saja? Apakah akan belajar untuk menghadapinya dengan lebih baik, semua terserah kita. Kita sebagai perempuan tentu tidak boleh meminta orang lain mengasihani kita, jika gejala tersebut datang kita harus cepat sadar dan jangan terlalu larut. Tapi tentu saja jika kaum bapak-bapak lebih sabar dan lebih mengerti apa yang terjadi dengan kaum ibu-ibu pada keadaan tersebut itu akan sangat menolong. 😊

Say something and leave your trace here

Recent posts

🎉 Bergabung dengan Komunitas Kami!

266 Subscriber 💌

22,310 hits

HADITS minggu INI

Diriwayatkan oleh Aisyah RA, “Rasulullah SAW adalah orang yang penyayang lagi lembut. Beliau orang yang paling lembut dan banyak menemani istrinya yang sedang mengadu atau sakit.”

~ HR Bukhari & Muslim