Masih lanjutan seri rangkuman hasil belajar saya tentang menopause, kali ini kita akan membahas hubungan resiko diabetes dengan perempuan menopause. Resiko diabetes tentu saja dimiliki semua orang tapi perempuan menopause memiliki resiko lebih besar. Bagaimana hal itu terjadi?

Mengapa seseorang bisa terkena diabetes

Kita bahas dulu diabetes secara umum yang bisa dialami setiap orang, kenapa bisa terjadi. Pada saat kita makan gula dan sumber gula seperti karbohidrat, hormon dalam tubuh (amilase, lipase) akan memecah gula menjadi sakarida dengan ukuran yang lebih kecil supaya bisa diserap oleh sel dalam tubuh. Molekul yang paling umum kita kenal adalah glukosa. Glukosa ini adalah sumber energi, makanya kalau kita belum makan karbo, bawaannya tubuh lemes tidak bertenaga. Jadi fixed karbohidrat itu dibutuhkan tubuh sebagai sumber energi ya..

Bagaimana glukosa menjadi sumber energi? Glukosa harus masuk ke dalam sel tubuh terutama sel otot menjadi glikogen sebagai sumber energi siap pakai untuk kita bergerak. Dalam sel tersebut ada reseptor tempat insulin “mengetuk pintu” sel sebagai pintu glukosa masuk ke dalam sel supaya dibakar menjadi energi. Insulin adalah hormon yang dihasilkan pankreas yang jumlahnya bertambah jika glukosa dalam darah juga bertambah. Masalahnya adalah jika glukosa yang berasal dari makanan jumlahnya terlalu banyak sedangkan ototnya mager tidak butuh energi untuk bergerak, setiap datang glukosa insulin terus menerus mengetuk pintu sel tapi sel gak mau terima. Keadaan ini disebut insulin resistance. Benih diabetes dimulai.

Batas kadar gula dalam darah

Pada tahap awal atau disebut pre-diabetes, karena sel tubuh gak respon walau diketuk-ketuk insulin minta dibukakan pintu untuk memasukkan glukosa, maka pankreas terus memproduksi insulin lebih banyak lagi. Pankreas berpikir mungkin selnya gak respon karena ketukannya kurang keras. Lama kelamaan pankreas capek juga, jadinya pankreas menyerah dan insulin yang dihasilkan tidak lagi sebanyak sebelumnya, saat itulah seseorang memiliki penyakit diabetes type 2.

Ada sistem lain jika glukosa terlalu banyak dalam darah karena resisestensi insulin, maka hati (liver) akan mengubah glukosa menjadi trigliserida. Trigliserida ini menjadi cadangan energi jika suatu hari diperlukan dengan cara memecah trigliserida menjadi glikogen. Jika tubuh mager juga, trigliserida ini akan disimpan dalam tubuh dalam bentuk lemak. Makanya orang yang memiliki diabetes biasanya identik dengan obesitas atau kelebihan berat badan walaupun tidak selalu begitu.

Mengapa diabetes berbahaya?

Jika kadar gula dalam darah terlalu tinggi karena tidak diserap oleh tubuh jadi energi, maka glukosa yang terus menerus berada dalam pembuluh darah akan merusak pembuluh darah. Kerusakan yang terjadi bergantung pembuluh darah mana yang rusak. Jika pembuluh darah kecil seperti saraf-saraf halus akan menyebabkan kebas dan saraf tersebut bisa rusak secara permanen. Jika yang rusak adalah pembuluh darah ukuran besar di jantung, maka jantung yang akan rusak. Saya kira penyakit ini sekarang sudah sangat umum diketahui dan bagi saya cukup menakutkan.

Bagaimana hubungan menopause dan diabetes?

Pada masa fertil, secara alami perempuan memiliki hormon esterogen yang bisa meningkatkan sensitifitas sel terhadap insulin. Jika hormon ini berkurang pelindung alaminya hilang, maka tubuh kita harus berjuang sendiri melawan diabetes. Pada saat perimenopause, perempuan cenderung mengalami kenaikan berat badan dan peningkatan lingkar perut. Bagaimana ini terjadi? Penurunan hormon pada perempuan meningkatkan hormon cortisol atau hormon stress yang merupakan hormon pertahanan tubuh. Jika kadar gula naik turun hormon cortisol akan bekerja memerintahkan tubuh menyimpan makanan dalam bentuk lemak sebagai cadangan makanan selain faktor melambatnya metabolisme tubuh.

Bagaiamana dengan lemak di perut? Lemak di area perut ini (disebut visceral fat) adalah lemak aktif mengeluarkan hormon. Selain di ovarium esterogen juga dikeluarkan oleh lemak di perut ini. Karena jumlah hormon dari ovarium menurun maka tubuh menambah lemak di perut untuk menambah jumlah produksi hormon esterogen dari lemak dari perut ini. Kalau di internet banyak disebut istilahnya belly fat menopause. Masalahnya bukan hanya esterogen yang dihasilkan dari lemak perut ini tapi juga hormon cortisol dan menurunkan sensitifitas insulin. Resiko seorang perempuan menopause terhadap diabetes menjadi double, dari penurunan hormon esterogen yang cukup signifikan dan peningkatan lemak di perut.

Bagaimana cara menghadapinya?

Masa perimenopause adalah masa yang tepat memulai gaya hidup sehat, jangan sampai terlambat. Seperti post saya tentang menopause dan kesehatan mental, hal yang dilakukan adalah mengurangi konsumsi gula dan sumber gula seperti karbohidrat, memperbanyak konsumsi protein, sayur dan buah. Selama ini saya mempertahankan berat badan dengan selalu menghitung kalori masuk dan keluar yang sudah saya ceritakan di postingan saya di sini. Tapi setelah usia 50 tahun diet lebih sulit dilakukan!! 😒

Saya coba hidup lebih aktif bergerak gak kebanyakan mager, mulai rutin berolah raga. Saya mengkombinasikan olah raga kardio dan angkat beban yang menggunakan otot. Olah raga membantu meningkatkan sensitifitas sel tubuh terhadap insulin karena tubuh kita terus digerakkan. Selain itu tentu saja saya menjauhi stress dan istirahat yang cukup.

Bagaimana dengan lemak di perut? Lemak di perut tidak akan hilang dengan melakukan banyak sit-up, ini tidak berlaku lagi pada perempuan usia 50-an. Lemak di perut bisa berkurang dari kegiatan olah raga yang rutin dilakukan. Jadi terus menerus rutin olah raga dan menjadi bagian dari pola hidup akan mengurangi lemak di perut sedikit demi sedikit, walaupun susah dan lama tapi lumayanlah sedikit berkurang.

Menopause itu alami dan pasti terjadi, tapi sehat itu pilihan.. dan kita harus memilih hidup sehat!!

Say something and leave your trace here

Recent posts

🎉 Bergabung dengan Komunitas Kami!

266 Subscriber 💌

22,310 hits

HADITS minggu INI

Diriwayatkan oleh Aisyah RA, “Rasulullah SAW adalah orang yang penyayang lagi lembut. Beliau orang yang paling lembut dan banyak menemani istrinya yang sedang mengadu atau sakit.”

~ HR Bukhari & Muslim