Beberapa bulan ini setiap hari saya mengantar anak saya ke sekolah juga pergi ke kampus harus melewati gang-gang sempit. Jika melewati jalan biasa saya lewati, macet tiada terkira karena pembangunan under pass dekat kampus. Saya sampai lupa cara menyetir mobil laju di atas 60 km/jam sekarang ini. Mirip-mirip siput berjalan…
Menyetir di gang sempit perlu keterampilan khusus, keterampilan memainkan setir dan keterampilan mengelola emosi. Ya.. emosi juga perlu dikelola dengan baik kalau lewat gang! Karena tidak jarang saya bertemu manusia-manusia yang meyebalkan melewati gang sempit karena sama-sama tidak ingin terjebak macet seperti saya. Mobil lebih bagus (baca: lebih mahal) tidak menjamin akhlak lebih mulia.
Berikut jenis-jenis manusia yang menyetir di gang sempit yang pernah saya temui:
- Manusia berakhlak mulia calon penghuni surga. Jenis manusia ini biasanya mengalah untuk memberikan jalan kepada orang lain karena memang gangnya sempit terkadang hanya bisa lewat satu mobil saja. Kalau pun harus kita yang mengalah memberikan jalan untuk mereka lewat, biasanya mereka akan menganggukkan kepala atau membunyikan klakson tanda terima kasih. Kalau semua pengguna jalan begini betapa indahnya dunia ini.
- Manusia baru belajar menyetir tapi maksa lewat gang. Nah ini yang bikin repot dan bikin macet. Sudah dikasih jalan lebar pun untuk lewat masih sulit. Tidak ada kata lain selain sabar menghadapi manusia seperti ini.
- Manusia egois. Sudah tahu ada bagian jalan yang sulit dilewati dua mobil masih maksa maju, terpaksa kitalah yang harus mundur. Boro-boro mengucapkan terima kash karena sudah diberi jalan untuk lewat. Emang dia pemilik gang apa? Hiii
- Manusia pembawa mobil besar dan maksa lewat gang. Kalau diperhatikan di Bandar Lampung ini banyak juga orang-orang kaya yang memiliki mobil ukuran jumbo – yang kalau parkir menghabiskan 1,5 tempat parkir itu lho – dengan harga di atas 500 juta rupiah, tapi masih maksa lewat gang sempit dan takut lecet!! Akibatnya semua orang harus minggir biarlah mereka jalan duluan. Aduh bapak, gak punya asuransi atas kelecatan mobil gitu?
- Manusia pembawa truk dan tangki. Lebih parah lagi kalau supirnya jenis supir egois tidak mau memeberi orang lain jalan untuk lewat. Speachless…
- Manusia yang merendahkan kemampuan ibu-ibu menyetir. Manusia jenis terakhir yang paling menyebalkan. Dengan omelan menghina dan merendahkan – dasar ibu-ibu, minggir dulu bu.. saya mau lewat – kiri-kira omelan seperti itulah yang sering dilontarkan. Kalau memang dia merasa lebih jago menyetir, dialah yang harusnya mundur, bukan mengatur saya untuk mundur dan bilang-bilang gak bisa nyetir karena saya ibu-ibu.
Biasanya proyek-proyek begitu selesai akhir tahun dan dibuka pas tahun baru, huhu..


Leave a reply to yanti Cancel reply