
Kecanduan games hanya ada pada zaman sekarang ini, zaman berbagai macam gadget dijual di mana-mana. Zaman dulu mana ada games beginian, zaman saya dulu mainnya ke sawah, kebon atau kolam ikan hehe. Kecanduan games ini bukan hanya terjadi pada anak-anak tetapi juga orang dewasa. Saya memiliki beberapa mahasiswa yang kecanduan games dan akhirnya kuliahnya DO (Drop Out).
Saya memiliki cerita salah satu mahasiswa saya yang DO karena kecanduan games online. Sebelumnya saya hanya mendengar cerita saja bahwa ada mahasiswa yang jarang kuliah karena mangkalnya bukan di kampus atau perpustakaan tapi di warnet. Sampai pada saat detik-detik mahasiswa itu harus ada keputusan DO saya baru tahu kasus mahasiswa tersebut.
Datanglah mahasiswa tersebut dengan bapaknya, bapaknya dengan berpakaian baju polisi. Pertama bapaknya sepertinya mau menekan saya supaya anaknya tidak jadi di-DO. Bapaknya masih belum percaya katanya anaknya setiap hari masuk kuliah dan tidak pernah bolos, dia pikir tidak mungkin anaknya harus di-DO. Akhirnya saya tanya mahasiswa tersebut berapa kali masuk kuliah di kelas saya, jawabnya tidak pernah. Berapa kali masuk kuliah di mata kuliah lainnya, jawabnya tidak pernah. Fakta jelas, transkrip jelas semua sudah terlambat.
Anehnya mahasiswa tersebut terlihat lega setelah saya membuka “rahasia” dia selama ini. Sepertinya dia sangat takut dengan bapaknya yang polisi itu kalau dia yang harus berterus terang tentang kegagalan kuliahnya. Akhirnya saya menceramahi mahasiswa dan bapaknya sekalian haha.
Kecanduan Games pada Anak
Orang dewasa seperti mahasiswa saya saja tidak berdaya menghadapi games online apalagi anak-anak yang kontrol terhadap diri sendirinya belum matang. Sehingga orang tualah yang harus menjaga anak-anak dari kecanduan tersebut. Untuk mengatasi hal tersebut perlu pencegahan sedini mungkin.
Main games sebagai alternatif bermain anak kalau masih wajar masih normal. Tetapi kalau sudah mengabaikan pergaulan, tidak memperdulikan pelajarannya, main games dengan waktu berjam-jam tentu hal tersebut akan merusak pribadi anak sendiri.
Anak saya sangat suka bermain games, games online, Play Station (PS) atau games di PC. Itu karena pergaulan dia yang memang teman-temannya suka juga bermain games. Tetapi saya berusaha sekuat tenaga supaya anak saya tidak bermain games teralalu banyak.
- Batasi waktu bermain games. Saya menetapkan hanya boleh bermain games pada saat weekend. Di luar itu no way.. Pada saat weekend pun harus dibatasi berapa jam total dia boleh bermain dalam satu hari.
- Tidak semua games yang dia inginkan diberikan. Tidak semua games bisa dimainkan oleh anak-anak, banyak yang khusus orang dewasa. Banyak games yang mengandung unsur pornografi dan kekerasan. Untunglah games-games PS itu harganya mahal sehingga kita bisa tahu games apa yang dia inginkan dan karena harganya mahal tentu tidak semua bisa dia dapatkan. Yang berbahaya tentu games-games online yang kita sendiri tidak tahu games jenis apa yang dimainkan anak-anak kita. Jadi selalu pantau dan usahakan orang tua juga tidak gaptek. 🙂
- Buat perjanjian dengan anak. Games membuat lupa segalanya, lupa makan, belajar, bahkan tidur. Saya selalu membuat perjanjian kalau dia mau bermain games pekerjaan lain harus tepat waktu dikerjakan, kalau tidak saya kurangi waktu main gamesnya. 😀
- Beri alternatif kegiatan lain kepada anak. Kalau tidak memiliki kegiatan kan anak pasti bosen. Nah tugas orang tua untuk memberikan alternatif, mungkin anak diajak masak bareng, berkebun, memancing, olah raga dll. Selain anak tidak bosen hal itu juga bisa menjadi jalan menjalin kedekatan antara anak dan orang tua.
Sampai saat ini masih berhasil dan prestasi anak saya di sekolah tidak terganggu. Mudah-mudahan saya kuat sebagai orang tua menghadapi serangan gadget yang bertubi-tubi. Mungkin ada yang bisa membantu saya memberiakn tips lain nih untuk menangkal serangan games. 🙂

Say something and leave your trace here