Sejak kecil saya tidak pernah punya pengalaman yang namanya jualan. Walaupun katanya istilah bisnis dan jualan itu beda, tapi saya percaya awal dari bisnis adalah jualan. Berbeda dengan saya, adek saya ahli dalam jualan. Sejak SD adek saya sudah belajar jualan segala macam di sekolahnya, apa yang ada di rumah dijual. Sampai dewasa pun adek saya ahli dalam berjualan.
Bagi saya dunia bisnis adalah dunia asing. Sejak saya lulus S1 saya langsung menjadi dosen dan tidak pernah bekerja di tempat lain. Dunia saya hanya kampus, tidak terpikir sedikit pun menjadi pebisnis. Cita-cita tersebut bagi saya terlalu tinggi. Harus deal dengan berbagai macam pelanggan, harus menghasilkan produk yang terbaik, dan banyak masalah lainnya. Dalam bayangan saya semua harus dijalani dengan sempurna atau tidak sama sekali. Lalu sekarang kenapa saya berubah pikiran? Apakah saya kurang uang? Apakah kurang pekerjaan? Apakah sudah mau ganti profesi?
Alkisah setiap weekend sejenak saya keluar dari rutinitas kampus, ke dapur masak ini masak itu, eksperimen ini dan itu. Semua makanan yang saya buat selalu berlebih dan selalu saya bagikan kepada teman dan tetangga saya. Entah mereka suka atau tidak, tapi saya seneng saja bisa berbagi kebahagiaan saya dan setidaknya makanan yang saya buat tidak mubazir. Jadi ada aja makanan yang sengaja saya bawa untuk dibagi untuk orang lain.
Jualan Roti Sourdough

Mungkin teman-teman ada yang pernah membaca tulisan lama saya tentang roti sourdough di sini. Nah, saya tidak pernah puas dengan skill ini. Jadi saya asah dan terus menerus saya asah. Saya banyak membaca berbagai macam buku tentang sourdough tapi ternyata setelah dipraktekkan hasilnya tidak sama. Banyak detil-detil yang hanya didapatkan dari pengalaman tidak ada di buku, dan saya ingin hasil yang sempurna. Dengan seringnya saya latihan membuat roti, saya banyak bagi-bagi ke teman-teman yang kira-kira mau saya bagi untuk makan roti saya (kalau yang gak suka makan roti nanti malah tidak dimakan). Saya mulai berpikir kenapa tidak dijual, dimulailah petualangan saya jualan.
Ternyata jualan itu tidak mudah. Lalu apa kabar dengan profil lulusan yang menginginkan lulusannya jadi pebisnis? Sekarang saya percaya menjadi pebisnis adalah talenta. Apa yang membedakan seseorang punya talenta bisnis dengan tidak? Mental pebinsnis berbeda dengan orang biasa. Saya merasa, deal dengan keinginan costumer itu bikin stress, bikin mau nangis. Saya merasa tidak sanggup. Apakah jadi dosen itu bukan pebisnis? Pebisnis harus menghasilkan profit, selama hidup saya tidak perduli dengan profit. Saya bekerja yang terbaik, berapa pun yang saya dapatkan di rekening saya itulah rezeki saya. Kesimpulan dunia bisnis tetaplah dunia asing bagi saya.
Saya respect dengan pebisnis sekecil apa pun skalanya jika dilakukan dengan jujur dan kerja keras. Ternyata banyak hal yang harus disiapkan dalam berbisnis, banyak kendalanya. Apalagi ada proses di situ, harus konsisten, kualitas terkontrol dan sempurna. Katanya tidak semua orang cocok menjadi pebisnis harus punya mental pebisnis. Mental tidak menyerah, mental melihat peluang, mental berinovasi, terus berjuang dan berjuang. Tidak lupa belajar menjadi pengusaha sesuai syariah supaya hasilnya berkah, dan ini menjadi tantangan lain lagi. Terlalu banyak orang tidak jujur di sekitar untuk mendapatkan uang. Tapi lumayan juga menambah panjang CV, berpengalaman jualan sesuatu 🙂 . Jadi bagaimana mau dilanjutkan? Mungkin, tapi tidak banyak ekspektasi, jadi dosen sudah sangat berat 😀 .
Tidak terasa hari ini kita di penghujung tahun 2025 ya.. semoga tahun depan kita diberi keberkahan dan semuanya lebih baik. Amiin.


Say something and leave your trace here