
Beberapa minggu lalu saya pernah memposting tentang kucing saya yang sedang birahi. Rupanya dia tidak tahan godaan kucing saya yang jantan, sehingga terjadilah persetubuhan antara kucing betina dan jantan saya. 😬😬 Setelah itu kucing betina saya normal seperti biasa lagi.
Saya memperhatikan kucing saya yang perutnya agak buncit beberapa hari ini, sepertinya hamil. Tapi tidak ada tanda-tanda muntah atau ngidam gitu, jadi saya antara percaya dan tidak dia hamil. Tapi dia lebih lembut lebih suka dibelai dan tidur deket-dekat saya. Jadi saya memperlakukan dia seperti biasa.
Ada titik darah
Kemarin sepulang kerja saya mendapati ada titik-titik darah di beberapa tempat di rumah saya. Ada apakah? Siapakah yang terluka? Yu-chan mana? Biasanya dia menyambut saya sepulang kerja. Rupanya dia sedang tergeletak di pojokan rumah, saya periksa alat genitalnya berdarah. Yu-chan mengeluarkan darah. Oh paniklah saya. Kamu hamil ya? Kamu keguguran ya? Kok gak bilang-bilang bunda? Dia tergolek lemah.
Saya memindahkan Yu-chan ke keranjang cucian yang dialasi handuk. Dia tidak bergerak, kukunya ditancapkan ke pinggir keranjang sepertinya kesakitan. Hanya nafasnya yang naik turun. Oh Yu-chan kamu sudah bikin bunda khawatir, besok kita ke dokter ya.
Bapak membunuh kucing?
Saya tidak beranjak dari samping Yu-chan dan terus memperhatikan dia apakah demam atau tidak. Saya khawatir. Saya pun berniat curhat dengan teman saya untuk mengurangi rasa cemas saya. Saya ambil hp dan memeriksa status BBM teman saya. Ada tulisan “Maafkan”. Ah bisa saya modusin untuk dicurhatin nih. Saya mengomentari status teman saya “Sudah saya maafkan”. Saya teringat musim maaf-maafan kalau lebaran atau awal puasa. Kemudian pesan berbalas pesan.
Saya lagi galau bu, hati saya sedang enak. Yaelah niat saya mau curhat malah saya dicurhatin.
Galau kenapa pak? Akhirnya saya yang kena curhatan dia.
Saya habis membunuh. Astaghfirullahal adziim, siapa yang dibunuh? Dimutilasi gak pak? Horror banget bapak ini.
Bapak habis membunuh apa? Nyamuk? Saya mencoba melucu dan garing.
Saya habis membunuh kucing. Saya jerat lehernya terus saya masukin karung. Tadinya mau saya lemparin begitu saja tapi gak enak sama tetangga jadi mau saya kubur. Allahu Akbar. Kucing saya sakit mau saya bawa ke dokter, teman saya membunuh kucing. Ih bapak ini horror banget sih. Saya pun membayangkan bapak ini sebagai pembunuh berantai di serial Criminal Mind.
Pak, kucingnya salah apa? kok bapak bunuh? *pake emosi sedih campur ngeri
Dia membunuh dan makan anak ayam saya 3 ekor, 1 ekor dibunuh di depan saya.
Itu kan naluri liar kucing pak. Kucingnya suka dikasih makan gak? Naluri membunuh keluar kalau dia lapar.
Saya kasih nasi pake ikan asin. Oh pantes kucingnya membunuh anak ayam bapak ini, rupanya makannya dikasih ikan asin. Bapak, kucingnya mau makan ayam kayak bapak.
Kapan saya curhatnya? Saya juga lagi sedih kucing saya lagi sakit. Akhirnya keluar juga curhatan saya.
Sakit apa bu?
Kayaknya hamil tapi sekarang keluar darah, saya takut keguguran. Dia kayaknya kesakitan tapi diem aja.
Dikasih minyak telon aja bu. Hah keguguran dikasih minyak telon? Emang dikira masuk angin apa? Bapak sih belum pernah keguguran, mana sembuh keguguran dikasih minyak telon. Pesan terhenti sampai di situ. Saya gagal curhat, mending tidur. Yu-chan masih tidur di keranjang tidak bergerak.
Yu-chan ke dokter hewan
Saya sudah siap-siap pergi ke dokter hewan dari pagi karena dokternya buka sd pukul 9. Saya masukkan Yu-chan ke keranjang jinjing tepat pukul 6:30 pagi.
Saya pernah pergi ke dokter hewan tersebut waktu mengoperasi kucing saya yang jantan. Tempatnya jauuuuh banget, nyetir lebih dari 30 menit. Dokternya sudah senior, pensiunan dari dinas peternakan lalu buka praktek dokter hewan. Orangnya ramah dan suka banyak cerita. Katanya alumni kedokteran hewan UGM, dan lain-lain panjang ceritanya. Dia pun mencoba bertanya banyak tentang saya. Tetapi melihat saya cemas dengan kucing saya dia pun tidak jadi banyak bertanya.
Dari depan pinta pagar saya sudah mencoba bercerita sama dokternya. “Dokter, ini emergency kayaknya kucing saya keguguran. Keluar darah terus.”
“Oh gitu, ayo masuk.” Dokternya ramah kan? Betul sekali. 🙂
“Nama kucingnya?”
“Yu-chan dokter.”
“Usia?”
“1,5 tahun”
“Warna?”
“Abu-abu.” Kayaknya jelas deh kucing saya warnanya abu-abu.
“Sejak kapan keluar darah?”
“Kemarin sore.”
“Kapan dia kawin?” Saya ingat-ingat dulu kapan saya posting kucing birahi.
“Awal April dokter.” Bener kan?
“Wah belum waktunya lahir, keluar gak bayinya?”
“Kayaknya cuma darah saja.”
“Kalau begitu saya beri obat penguat kandungan saja mudah-mudahn bayinya masih selamat.”
Saya pun meluncur ke apotik yang dirujuk oleh dokter hewan tersebut. Tidak semua apotik mau melayani obat untuk hewan. Racikannya rumit, tapi harganya murah. Mbak-mbak yang jaga apotik juga kepo rupanya. “Kucingnya lagi hamil ya kok dikasih penguat kandungan?”. Banyak pengunjung apotik juga yang mencoba melongok-longok Yu-chan di keranjang. Yu-chan jadi selebriti di apotik sejenak. 😀
Saya pun senang sepertinya Yu-chan jadi hamil, gak senang-seneng amat sih. Senang karena saya suka kucing, tidak senang karena kucing saya tambah banyak capek ngurusnya. “Kalau ada anaknya buat saya saja bu.” Banyak teman yang berkata begitu. Karena kucing saya keturunan kucing Persia, mereka lucu dan menggemaskan. Ah entahlah apakah saya tega menjual atau memberikan anak kucing saya kepada orang lain.
Yu-chan, mau bunda beliin rujak gak? Rujaknya pedes gak? Nanti bunda beliin ya. Yu-chan tidur tidak menjawab, tapi lebih baik sudah bisa minum obat dan makan sedikit.

Leave a reply to winnymarlina Cancel reply