Biasanya juga pergi sendiri sih tapi dari Jakarta sampai Bandara Internasional Istanbul, selebihnya duduk manis sampai tujuan akhir tanpa berpikir keras arah jalan dan harus ngomong apa. Ya.. sebagai manusia yang lahir dan besar di Indonesia plus pemalas tentu saja gak ngerti orang ngomong Bahasa Turki apalagi disuruh ngomong Turkish. Tapi perjalanan kali ini sangat berbeda, saya harus berjuang sendiri, mencari jalan sendiri sampai ke tujuan. Saya akan ceritakan perjalanan saya yang penuh drama (agak lebay sih). Perjalanannya udah beberapa bulan lalu, tapi siapa tahu ada yang nekad jalan-jalan sendiri ke sana dan pengalaman saya bisa bermanfaat.
Pemberitahuan yang mendadak harus pergi ke Turki, jadinya mengurus cuti dan beli tiket 2 hari sebelum berangkat. Itu pun saya hanya mampu beli tiket one way (ih sedih ya, gaklah biasa aja ๐). Jadilah saya beli tiket one way, karena apa? Karena tiket yang dadakan itu mahal ya. Tapi tidak apa, memang harus pergi. Untunglah pergi ke Turki tidak perlu visa, orang Indonesia yang datang ke sana bebas visa selama sebulan, pergi dadakan pun tidak masalah.
Pergi dadakan meninggalkan rumah dan pekerjaan, sedikit menjadi guncangan. Banyak yang nyari, pekerjaan yang harusnya selesai jadinya tertinggal. Kebun siapa yang nyiram? Kucing-kucing siapa yang ngasih makan? Mudah-mudahan saya pulang mereka masih hidup.
Tiba saatnya berangkat, tidak ada drama yang berarti. Waktunya check-in. Dulu, yang suka nanya-nanya ngapain ke luar negeri, nanti tinggal di mana, urusan apa ke sana, pokoknya ditanya segala macam itu di bagian imigrasi. Berhubung sekarang sudah menggunakan e-gate, maka petugas yang nanya begitu adalah airline tempat check-in. Ingat kan.. saya beli tiket one way. Nah, rute pesawat saya adalah Jakarta-Doha, Doha-Ankara (jadi tahu kan pesawat saya apa), tapi ternyata yang Jakarta-Doha saya dititip di Airline Nasional kita. Drama dimulai..
Perjalanan Jakarta-Corum
Boarding pass saya ditahan karena saya tidak punya tiket pulang. Katanya nanti takutnya sampai di Turki gak boleh masuk karena gak punya tiket pulang. Yang nanya mbak-mbak dan super judes. Sebagai orang Indonesia yang menjunjung tinggi keramahan kepada pelanggan, lihat orang judes begitu suka agak naik darah. Tapi tetap mencoba sabar. Kalau mbak-mbak itu pernah ke Turki, di imigrasi sana boro-boro disuruh pulang lagi, ditanya apa pun tidak lho. Tapi tetap saya tidak boleh pergi, padahal saya punya tiket dan sudah bayar!!! Terpaksalah dengan segala cara saya beli tiket pulang dalam waktu sesingkat-singkatnya. Bisa ditebak dong harganya, saya pilih pulang lewat Istanbul karena harganya lebih murah. Boarding pass sudah saya dapatkan dan saya boleh pergi.
Perjalanan Jakarta-Doha tidak ada masalah. Anyway, airline nasional kita pernah menjadi airline terbaik sedunia lho. Lah kok mbak-mbak nya judes begitu? Apa karena biasanya orang Indo itu pemuja bule, jadi kalau ke sesama orang Indo jadi judes. Astaghfirullah, kok jadi buruk sangka. Sabar bu..
Tibalah di Doha, dan saya harus transit 8 jam di Doha!! Bagi yang pernah ke bandara Doha, menurut saya itu bandara terbaik di dunia. Eh beneran ternyata banyak bintangnya di situ sebagai bandara terbaik di dunia. Bandaranya tidak terlalu ramai, petunjuk arah jelas, bersih, mewah dan ada taman tropis keren bangeet. Sungguh tidak berasa ada di tengah negara beriklim gurun pasir, karena taman tropisnya malah lebih cantik dan lebih bagus dari negara di tropis sendiri . Jadi tidak terasa transit 8 jam itu dihabiskan explore bandara, selebihnya cuma numpang pipis dan solat (tanpa belanja tentunya, ingat kan beli tiket aja terpaksa apalagi belanja ๐).
Tiba di Ankara Turki. Kenapa ke Ankara karena tujuan saya ke Corum lebih dekat dari Ankara, sekitar 4 jam dibandingkan dari Istanbul yang bisa 10-11 jam. Seperti biasa, ke mana pun pergi pasti ketemu orang Indonesia di Turki. Ada mbak-mbak katanya mau nikah di Turki, jadilah memberi tausiah pernikahan sedikit dulu ๐. Selanjutnya saya tidak tahu cerita mbak-mbak itu selanjutnya. Semoga bahagia pernikahannya ya mbak, siapa pun yang ketemu saya di Bandara Ankara.
Kebingunan dimulai, dari bandara Ankara terus ke mana? Berpikir, saya tidak punya uang lira, jadi saya menukar uang saya menjadi lira seperlunya saja untuk ongkos dan sedikit makanan. Terus saya tanya mbak yang menjaga money changer karena saya lihat di fasih berbahasa Inggris. Jawabnya:” You can take bus to Asti, then find bus to Corum“. Begitu saja kata dia. Bingung? Tentu saja! Tapi kata kuncinya Asti, apapun itu. Ke luar dari bandara mencari bis, dan ternyata bis banyak berjejer di bandara dan bingung mana yang menuju Asti. Muter-muter akhirnya ketemu bis yang ke Asti. Bagaimana cara bertanya? Pakai Bahasa Inggris tapi ditekankan kata Asti, mereka mengerti. Bayar bis bandara Ankara-Asti 180 lira, saya pakai cash walau dia terima bayar pakai ATM.
Di tengah jalan, bis sering berhenti dan banyak orang turun. Hah, deg-degan saya turun di mana. Tapi.. tulisan bisnya Bandara-Asti, artinya itu tujuan akhir. Jadi kuncinya jangan turun kalau bukan tujuan akhir. Ternyata Asti itu nama lengkapnya Asti Otogar, artinya terminal bis Asti. Terminal tersebut tempat bis antar kota mengambil penumpang. Sebelumnya saya harus beli tiket bis ke Corum. Muter-muter, tanya sana sini ketemu juga konter tempat menjual tiket bis ke Corum. Ngomong Bahasa Turki? Tentu tidak? ๐ cukup menduga apa yang diminta, pasport mudah ditebak, harga yang harus dibayar? Cukup sodorkan uang suruh ambil sesuai harganya, nanya no telpon? Tulis di kertas kasihkan. Hah, beres dapat tiket.. menunggu bis selama 1 jam. Sebelum naik bis makan dulu sekedarnya. FYI, tiket bis dari Ankara ke Corum untuk perjalana 4 jam sungguh sangat terjangkau, cocok untuk saya yang travelling uang seadanya.
Perjalanan 4 jam ke Corum tidak ada halangan yang berarti, nyaman bahkan sangat nyaman walau tiketnya murah. Selama di bis diberi minuman boleh pilih mau yang hangat dan dingin, snack berbagai macam. Cukup pilih satu aja ya.. walau ditawarkan banyak. Yang bikin deg-degan adalah tujuan saya adalah bukan tujuan akhir, jadi saya berusaha sekuat tenaga untuk tidak tertidur. Tapi alhamdulillah bisa ditahan dan sampai di Corum otogar dengan selamat. Perjalanan selesai.
Perjalanan Pulang
Perjalanan ke Turki secara umum murah dan menyenangkan. Tinggal perjalanan pulang ke rumah. Tiket pulang saya menuju Jakarta bukan lagi lewat Doha tapi lewat Jeddah (tiket paling terjangkau ๐ ). Perjalanan dari Corum-Istanbul ditempuh selama 12 jam menggunakan bis malam. Bisnya sangat nyaman, kursinya lebar, bisa tidur dengan cukup enak (setara bis Royal Damri kalau di sini). Saya sudah biasa travelling lewat Istanbul jadi ini tidak ada masalah. Banyak orang yang mengerti Bahasa Inggris di Istanbul, jadi cukup sepotong Bahasa Turki pun masih bisa nyambung. Dari Esenler otogar tempat pemberhentian bis dari Corum, selanjutnya saya naik bus (warna oranga lupa namanya) ke bandara internasional Istanbul bayarnya pakai ATM.
Yang saya khawatirkan adalah cara pembayaran di Turki. Beberapa kali saya coba membayar degan uang lira dan tidak ada masalah. Tetapi beberapa tempat tidak menerima uang cash hanya menggunakan kartu. Kartu ATM bank dari Indonesia bisa digunakan tapi ada yang aneh. Mereka tidak meminta nomor PIN!! Aduduh kartu ATM saya harus dikekepin sepanjang masa kalau begini. Memang orang Turki sangat jujur gitu ya? Sampai menggunakan ATM saja tanpa minta PIN. Tapi anyway, kartu ATM saya bisa pulang dengan selamat ๐คฒ.
Perjalanan pulang menuju Jakarta lewat Jeddah secara umum baik-baik saja. Kalau ada yang pernah transit atau pulang pergi lewat bandara Jeddah tahulah ya keadaan bandara di sana. Secara umum baik dan bersih, tapi.. jumlah tempat duduk sangat terbatas. Sehingga banyak orang tidak kebagian tempat duduk dan lesehan di lantai. Kalau kita mah biasa ya lesehan, nah kalau yang lesehan bule nunggu pesawat ke Prancis agak gimanaa gitu.
Ada cerita lucu selama menunggu pesawat ke Jakarta di bandara Jeddah. Seperti biasa kalau transit di bandara negara Arab pasti ketemu TKW. Ya.. ngobrol-ngobrol sedikit dengan mereka. Seperti biasa cerita tentang kehidupan mereka di sana, ada yang enak ada yang gak enak macam-macamlah. Giliran dia nanya saya:”Mbak tinggal di Saudi-nya di mana?” Saya jawab:”Saya tidak tinggal di Saudi, tadi dari Turki mau pulang”. Jawaban saya benar kan? Terus komentarnya begini:”Oh.. kerjanya di Turki? Enak ya kerja di Turki?” Ah sudahlah, saya hanya tersenyum dan waktunya boarding..
Pulang dari Jakarta ke Lampung saya memilih naik bis malam. Karena apa? Saya pengalaman naik pesawat di-delay astagfirullah sampai berjam-jam. Pesawat seharusnya terbang jam 6 sore, jadinya jam 10 malam. Udah gitu, mbak-mbak pramugari seenaknya mindah-mindahin tempat duduk karena ada penumpang lain yang duduknya mau deketan sama temennya. Saya berkomentar agak keras:”Mbak, ini hak penumpang sesuai kursi yang saya pilih waktu check in. Saya bayar sama dengan oran lain. Salah saya apa tempat duduk saya dipindahkan?” Saya agak naik darah karena sudah kesal nunggu pesawat berjam-jam. Mbak-mbaknya menjawab:”Maaf ya bu”. Tapi mukanya sama sekali tidak terlihat merasa bersalah, bagi mereka itu sesuatu yang biasa aja. Penumpang juga suka aneh, cuma perjalanan pesawat 1/2 jam aja harus duduk deketan tidak mau berpisah dengan temennya, sampai mengorbankan penumpang lain. Ya, jadi lebih baik saya naik bis malam sekalian jelas jamnya dan tepat waktu, udah gitu kalau bawa bagasi besar pun tidak perlu bayar. Bisa menebak dong nama pesawatnya apa? ๐ค
Kesimpulannya, travelling solo ke Turki cukup menyenangkan. Orang-orang di sana cukup helpful walaupun tidak ramah. Budaya mereka memang tidak ramah, apalagi perempuan kepada laki-laki. Sangat tidak umum perempuan senyam senyum, suara dimanja-manjakan, panggil-panggil sayang, dear, atau baby ke sembarang laki-laki ๐ฑ, apalagi kepada laki-laki asing. Mereka bicara seperlunya. Kita orang Indonesia suka membawa-bawa budaya terlalu ramah ke lawan jenis ke luar negeri, laki-laki bisa salah faham dikira kita genit atau dikira perempuan gampangan. Jadi jangan tersinggung jika dilayani tanpa senyum dan ngomong seperlunya. Anyway Turki berganti nama dari Turkey jadi Turkiye ya.. jangan salah sebut nanti.
Sekian ceritanya, kita jalan-jalan lagi tahun depan ๐คฃ


Say something and leave your trace here