Cabe rawit saya mulai berbuah dan biasanya akan matang bersamaan. Kalau sudah matang bersamaan begitu, terus jadinya berlebih cabe. Apakah terus jadinya saya harus nyemil cabe kalau lagi gabut, sambil nangis berurai air mata kesedihan dan penyesalan? Masalah hidup saya banyak tapi kayaknya gak se-desprate itu deh. 😀 Baiklah, solusinya cabe difermentasi untuk diawetkan, sehingga biarpun berbuah banyak dan matang bersamaan bisa dibuat sambel atau campuran makanan apu pun di kemudian hari.

Beda Fermentasi dan Acar Cabe

Saya agak bingung dengan bahasa Indonesianya. Fermentasi berasal dari kata Bahasa Inggris fermentation sedangkan acar dari Bahasa Inggris pickles, bener gak sih Bahasa Indonesia saya? Tapi baiklah sebut saja begitu, fermentasi dan acar.

Proses fermentasi adalah proses pengawetan makanan yang melibatkan bakteri. Bakteri yang secara alami ada pada sayur dipelihara selama proses fermentasi. Bakteri tersebut diperbanyak untuk mengubah gula jadi asam laktat, sehingga hasil fermentasi sayur rasanya asam. Contoh fermentasi sayur yang paling terkenal adalah kimchi.

Sayur yang diawetkan menggunakan metode fermenasi adalah sayur mentah. Setelah fermentasi selesai tekstur sayur lebih lunak dan lebih mudah dicerna. Bahan yang digunakan sebagai pengawet sayur hanya air dan garam. Garam itulah akan menekan bakteri buruk berkembang biak dan membiarkan bakteri baik tumbuh menjadi banyak. Setelah proses fermentasi selesai, sayur hasil fermentasi harus disimpan di dalam kulkas supaya proses fermentasi berhenti. Selanjutnya sayur tahan lama selama berbulan-bulan.

Sedangkan acar sayur melibatkan cuka sebagai bahan pengawet makanan. Sayur dan semua alat yang digunakan harus disterilkan, sayur juga dipanaskan sebelum disimpan. Karena ada proses pemanasan pada pembuatan acar, maka semua bakteri yang baik maupun yang buruk akan mati. Jadi tidak ada bakteri yang tersisa pada acar. Tapi.. kelebihan acar adalah sayurnya bisa disimpan di suhu ruang tidak perlu lagi kulkas selama segel tutupnya rapat tidak dibuka. Ada kekurangan kelebihannya di antara kedua metode tersebut. Nah, yang akan saya bahas di sini adalah pengawetan sayur dengan fermentasi, ke depan saya akan bahas pengawetan sayur dengan dibuat acar.

Bahan yang Diperlukan untuk Fermentasi Cabe

Fermentasi sayur sangat mudah, hanya diperlukan beberapa alat dan bahan ditambah bumbu sabar. Ya sabar.. seperti kesabaran menunggu kepastian dibumbui harapan. Apa sih?

  1. Sayur yang akan difermentasi, cabe rawit masih hijau karena saya tidak mau terlalu pedas.
  2. Herbal, saya menggunakan daun dill dan ketumbar. Pokoknya apa yang ada di rumah, kalau cuma ada bawang putih juga boleh.
  3. Garam, kalau ada gunakan garam laut tanpa iodium. Iodium sifatnya membunuh bakteri jadi lebih baik yang murni tanpa iodium. Jumlah garam yang diperlukan 3% dari air.
  4. Air matang bisa diminum. Untuk jar 350 ml gunakan air 200 ml saja.
  5. Daun anggur (jika ada), bisa diganti daun lain atau plastik. Daun anggur mengandung tanin yang membuat sayur teksturnya renyah.

Alat yang Diperlukan

  1. Toples 350 ml, untuk cabe kira-kira 250 g.
  2. Timbangan untuk menimbang garam, karena jumlah garam yang digunakan sedikit jadi harus presisi nimbangnya.
  3. Alat-alat untuk mengaduk seperti sendok, mangkok untuk mencampur. Gitulah.
  4. Tangan yang bersih dan kesabaran..

Proses Fermentasi Cabe

  1. Dimulai dengan membersihkan cabe dan buang tangkainya.
  2. Siapkan toples untuk tempat fermentasi. Cuci bersih toples.
  3. Masukkan herbs, herbs apa pun yang digunakan letakkan di bagian bawah.
  4. Masukkan cabe rawit ke dalam toples, jangan penuh-penuh beri ruang tempat udara. Saat fermentasi terjadi akan ada gas yang dihasilkan, jadi beri tempat gas berkumpul.
  5. Siapkan larutan garam. Campurkan air dan garam, aduk sampai larut.
  6. Masukkan larutan garam ke dalam toples isi cabe.
  7. Tutup dengan daun anggur sampai semua permukaan tertutup.
  8. Sayur nanti akan naik ke atas, pastikan semua sayur tertutup air. Proses fermentasi melibatkan bakteri anaerob artinya bakteri yang tidak memerlukan oksigen untuk hidup. Sedangkan bakteri buruk hidup memerlukan oksigen, jadi membuat sayur selalu terendam air bisa menghindari bakteri buruk berkembang biak.

Safety

Keamanan selama proses fermentasi harus selalu diperhatikan, berikut apa yang harus dilakukan supaya proses fermentasi aman:

  1. Selalu mencuci tangan selama proses fermentasi sayur.
  2. Gunakan alat-alat yang bersih untuk menghindari kontaminasi bakter buruk.
  3. Buka tutup toples setiap hari untuk merilis gas yang terkumpul di bagian atas toples.
  4. Sayur yang difermentasi seharusnya tercium aroma asam segar, jika tercium busuk buang sayur dan ulangi prosesnya, kemungkinan sudah terkontaminasi bakteri buruk.
  5. Setelah proses fermentasi selesai (bisa ditentukan mau seasam bagaimana hasilnya), simpan sayur yang sudah difermentasi di dalam kulkas.

Selamat mencoba, sekarang tidak perlu gadoin cabe rawit kalau lagi melow karena cabe awet bisa dibuat sambel di kemudian hari. 😀 Jangan lupa tonton video lengkap fermentasi cabenya di Youtube saya ya.

Say something and leave your trace here

🎉 Bergabung dengan Komunitas Kami!

266 Subscriber 💌

21,641 hits

HADITS minggu INI

Diriwayatkan oleh Aisyah RA, “Rasulullah SAW adalah orang yang penyayang lagi lembut. Beliau orang yang paling lembut dan banyak menemani istrinya yang sedang mengadu atau sakit.”

~ HR Bukhari & Muslim